Oleh: techno.okezone.com
Di dalam fotografi, pengaturan pencahayaan merupakan kunci keberhasilan untuk mendapatkan hasil gambar yang diinginkan. Pengaturan pencahayaan ini sangat berkaitan dengan pengaturan diafragma (aperture) dan kecepatan (shutter speed).
Jika pada kamera saku digital terdapat fasilitas shooting mode manual, maka pengaturan diafragma dan kecepatan diatur oleh si pemotret. Dengan pengaturan pencahayaan dengan shooting mode manual ini kebutuhan pencahaaan yang didapat biasanya lebih tepat dibandingkan dengan pengaturan shooting mode secara otomatis.
1. Over Exposure
Yang dimaksude over exposure adalah pencahayaan yang berlebih. Penyebar kelebihan pencahayaan ini adalah pengaturan aperture dengan shutter speed yang tidak sesuai. Jika dilihat di garis matering, posisi jarum matering berada di areal plus (+). Akibat dari kelebihan pencahayaan, foto yang dihasilkan tampak didominasi warna putih/terang.
Ada yang menyebut kelebihan pencahayaan ini dengan istilah harz. Over exposure juga bisa disebabkan oleh sambaran lampu kilat yang terlalu kuat/ Hal ini bisa terjadi jika jarak antara obyek dengan lampu kilat (flash) terlalu dekat atau si pemotret terlalu penuh mengatur output flash.
2. Under Exposure
Kebalikan dari over exposure, adalah kekurangan pencahayaan. Penyebabnya pun sama, tidak sesuainya pengaturan shutter speed dan aperture (-). Under exposure biasanya juga disebabkan oleh sambaran flash yang terlalu lemah. Hal ini bisa terjadi jika jarak antara objek dengan flash terlalu jauh atau si pemotret terlalu minim mengatur output flash.
3. Cahaya dari Depan Objek
Memotretlah dengan keadaan objek menghadap sinar, bukan pemotret yang menghadap sinar. Cahaya yang datang dari depan objek akan menyinari tubuh secara merata. Wajah objek tampak jelas. Jika pada sebagian wajah objek ada sedikit bayangan (shadow), hal ini tidak mengurangi hasil foto, justru menambah nuansa foto.
4. Cahaya dari Belakang Objek
Saat memotret objek di luar ruangan (outdoor) sebaiknya menghindari pengambilan gambar yang menantang matahari. Pemotretan dengan menantang matahari, tubuh objek akan tampak gelap. Apalagi jika kondisi matahari terlalu kuat maka seluruh objek akan tampak hitam. Hasil foto seperti ini bisa menghasilkan foto siluet.
5. Cahay Pagi Hari
Memotret objek dengan memanfaatkan pencahayaan di pagi hari sangat disarankan. Pasalnya, cahaya pagi hari akan menghasilkan tonal warna yang lembut. Hasil foto yang didapatkan relatif bagus, baik objek landscape (pemandangan) maupun objek manusia.
6.Cahaya Siang Hari
Memotret objek pada siang hari sangat tidak disarankan karena sifat pencahayaan yang terlalu kuat sehingga foto yang dihasilkan cenderung over exposure, meskipun pengaturan aperture dan shutter speed sudah sesuai.
7. Cahaya Sore Hari
Pemanfaatan cahaya sore hari sangat dianjurkan dalam pemotretan. Sifat pencahayaan pada sore hari sama dengan pagi hari. Apalagi saat intensitas cahaya matahari sedikit berkurang, pada pukul 16.00 ke bawah.
8. Cahaya Malam Hari
Pemanfaatan cahaya pada malam hari sebenarnya memanfaatkan cahaya yang dihasilkan oleh lampu sebagai cahaya luar. Jangan terlalu mengandalkan flash karena hasilnya nanti akan tidak alami. Untuk menyiasatinya, pemotret bisa menggunakan shutter speed rendah tanpa tambahan lampu flash. Sayangnya, shutter speed yang rendah akan membuat foto menjadi tidak maksimal, maka dari itu, untuk mengatasinya pemotret bisa dibantu dengan penggunaan tripod.
Disarankan untuk memotret pagi hari pada jam 06.00 - 09.00 dan sore hari pada pukul 16.00 - 18.00. Pasalnya, dalam waktu-waktu tersebut terdapat pencahayaan yang paling baik.
Tips dan Ragam Pencahayaan dalam Fotografi
Pencahayaan
Latar Belakang
Sejak dimulainya peradaban hingga sekarang, manusia meciptakan cahaya hanya dari api, walaupun lebih banyak sumber panas daripada cahaya. Di abad ke 21 ini kita masih menggunakan prinsip yang sama dalam menghasilkan panas dan cahaya melalui lampu pijar. Hanya dalam beberapa dekade terakhir produk-produk penerangan menjadi lebih canggih dan beraneka ragam. Perkiraan menunjukan bahwa pemakaian energi oleh penerangan adalah 20 - 45% untuk pemakaian energi total oleh bangunan komersial dan sekitar 3 - 10% untuk pemakaian energi total oleh plant industri. Hampir kebanyakan pengguna energi komersial dan industri peduli penghematan energi dalam sistim penerangan.
Seringkali, penghematan energi yang cukup berarti dapat didapatkan dengan investasi yang minim dan masuk akal. Mengganti lampu uap merkuri atau sumber lampu pijar dengan logam halida atau sodium bertekanan tinggi akan menghasilkan pengurangan biaya energi dan meningkatkan jarak penglihatan. Memasang dan menggunakan kontrol foto, pengaturan waktu penerangan, dan sistim manajemen energi juga dapat memperoleh penghematan yang luar biasa. Walau begitu, dalam beberapa kasus mungkin perlu mempertimbangkan modifikasi rancangan penerangan untuk mendapatkan penghematan energi yang dikehendaki. Penting untuk dimengerti bahwa lampu-lampu yang efisien, belum tentu merupakan sistim penerangan yang efisien.
Teori Dasar Mengenai Cahaya
Cahaya hanya merupakan satu bagian berbagai jenis gelombang elektromagnetis yang terbang ke angkasa. Gelombang tersebut memiliki panjang dan frekuensi tertentu, yang nilainya dapat dibedakan dari energi cahaya lainnya dalam spektrum elektromagnetisnya.
Cahaya dipancarkan dari suatu benda dengan fenomena sebagai berikut:
Pijar padat dan cair memancarkan radiasi yang dapat dilihat bila dipanaskan sampai suhu 1000K. Intensitas meningkat dan penampakan menjadi semakin putih jika suhu naik.
Cahaya nampak, seperti yang dapat dilihat pada spektrum elektromagnetik, diberikan dalam Gambar, menyatakan gelombang yang sempit diantara cahaya ultraviolet (UV) dan energi inframerah (panas). Gelombang cahaya tersebut mampu merangsang retina mata, yang menghasilkan sensasi penglihatan yang disebut pandangan. Oleh karena itu, penglihatan memerlukan mata yang berfungsi dan cahaya yang nampak.
Muatan Listrik: Jika arus listrik dilewatkan melalui gas maka atom dan molekul memancarkan radiasi dimana spektrumnya merupakan karakteristik dari elemen yang ada.
Electro luminescence: Cahaya dihasilkan jika arus listrik dilewatkan melalui padatan tertentu seperti semikonduktor atau bahan yang mengandung fosfor.
Photoluminescence: Radiasi pada salah satu panjang gelombang diserap, biasanya oleh suatu padatan, dan dipancarkan kembali pada berbagai panjang gelombang. Bila radiasi yang dipancarkan kembali tersebut merupakan fenomena yang dapat terlihat maka radiasi tersebut disebut fluorescence atau phosphorescence.
Efficacy Beban Terpasang: Merupakan iluminasi/terang rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang datar per watt pada pencahayaan umum didalam ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m². Perbandingan Efficacy Beban Terpasang: Merupakan perbandingan efficacy beban target dan beban terpasang.
Luminaire: satuan cahaya yang lengkap, terdiri dari sebuah lampu atau beberapa lampu, termasuk rancangan pendistribusian cahaya, penempatan dan perlindungan lampu-lampu, dan dihubungkannya lampu ke pasokan daya.
Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya rata-rata yang
dicapai adalah rata-rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah ditentukan. Satu lux
setara dengan satu lumen per meter persegi.
Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja.
Efficacy cahaya terhitung: Perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan dalam lumens per watt.
Indeks Ruang: Merupakan perbandingan, yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan bidang titik lampu.
Efficacy Beban Target: Nilai efficacy beban terpasang yang dicapai dengan efisiensi terbaik, dinyatakan dalam lux/W/m².
Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya yang dipancarkan oleh lampu-lampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola pencahayaan.
Intensitas Cahaya dan Flux:
Satuan intensitas cahaya I adalah candela (cd) juga dikenal dengan international candle. Satu lumen setara dengan flux cahaya, yang jatuh pada setiap meter persegi (m²) pada lingkaran dengan radius satu meter (1m) jika sumber cahayanya isotropik 1-candela (yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan pusat isotropik lingkaran. Dikarenakan luas lingkaran dengan jari-jari r adalah 4πr², maka lingkaran dengan jari-jari 1m memiliki luas 4πm2, dan oleh karena itu flux cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1- cd adalah 4π1m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah:
Flux cahaya (lm) = 4π × intensitas cahaya (cd)
Perbedaan antara lux dan lumen adalah bahwa lux berkenaan dengan luas areal pada mana flux menyebar 1000 lumens, terpusat pada satu areal dengan luas satu meter persegi, menerangi meter persegi tersebut dengan cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens, yang menyebar ke sepuluh meter persegi, hanya menghasilkan cahaya suram 100 lux.
Hukum Kuadrat Terbalik
Hukum kuadrat terbalik mendefinisikan hubungan antara pencahayaan dari sumber titik dan
jarak. Rumus ini menyatakan bahwa intensitas cahaya per satuan luas berbanding terbalik
dengan kuadrat jarak dari sumbernya (pada dasarnya jari-jari).
E = I / d ²
Bentuk lain dari persamaan ini yang lebih mudah adalah:
E1 d1 ² = E2 d2 ²
Jarak diukur dari titik uji ke permukaan yang pertama-tama kena cahaya – kawat lampu pijar
jernih, atau kaca pembungkus dari lampu pijar yang permukaannya seperti es.
Contoh: Jika seseorang mengukur 10 lm/m² dari sebuah cahaya bola lampu pada jarak 1 meter, berapa kerapatan flux pada jarak setengahnya?
Penyelesaian: E1m = (d2 / d1)² * E2
= (1,0 / 0,5)² * 10
= 40 lm/m²
Suhu Warna
Suhu warna, dinyatakan dalam skala Kelvin (K), adalah penampakan warna dari lampu itu sendiri dan cahaya yang dihasilkannya. Bayangkan sebuah balok baja yang dipanaskan secara terus menerus hingga berpijar, pertama-tama berwarna oranye kemudian kuning dan seterusnya hingga menjadi “putih panas”. Sewaktu-waktu selama pemanasan, kita dapat mengukur suhu logam dalam Kelvin (Celsius + 273) dan memberikan angka tersebut kepada warna yang dihasilkan. Hal ini merupakan dasar teori untuk suhu warna. Untuk lampu pijar, suhu warna merupakan nilai yang “sesungguhnya”; untuk lampu neon dan lampu dengan pelepasan intensitas tinggi (HID), nilainya berupa perkiraan dan disebut korelasi suhu warna. Di Industri, “suhu warna” dan “korelasi suhu warna” kadang-kadang digunakan secara bergantian. Suhu warna lampu membuat sumber cahaya akan nampak “hangat”, “netral” atau “sejuk”. Umumnya, makin rendah suhu, makin hangat sumber, dan sebaliknya.
Perubahan Warna
Kemampuan sumber cahaya merubah warna permukaan secara akurat dapat diukur dengan baik oleh indeks perubahan warna. Indeks ini didasarkan pada ketepatan dimana serangkaian uji warna dipancarkan kembali oleh lampu yang menjadi perhatian relatif terhadap lampu uji, persesuaian yang sempurna akan diberi angka 100. Indeks CIE memiliki keterbatasan, namun cara ini merupakan cara yang sudah diterima secara luas untuk sifat-sifat perubahan warna dari sumber cahaya.
Teori Dasar Diafragma
Oleh: Abram Derisko Putra, Broe
Salah satu teori dasar fotografi menyebutkan bahwa setiap kali mengecilkan bukaan diafragma satu stop, berarti mengurangi volume cahaya (yang masuk melalui lensa) sebanyak setengahnya. Kebalikannya, bila kita memperlebar bukaan diafragma satu stop, berarti menambah volume cahaya sebanyak dua kali lipat dari sebelumnya. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Angka diafragma didapatkan dari perbandingan antara panjang fokus lensa dan diameter permukaan lensa yang berfungsi mengumpulkan cahaya. (f/stop = F/Ø)
Jadi, bila lensa 50 mm mempunyai diameter (diameter = diameter lensa (kaca) bukan diameter dudukan filter) selebar 50 mm maka dikatakan dia mempunyai diafragma f/1 (50 mm : 50 mm). Ini adalah lensa yang sangat kuat mengumpulkan cahaya dan saat ini hanya diproduksi oleh satu produsen kamera (canon).
Dari sini dapat dihitung – memakai lensa normal dengan bukaan maksimum f/1,4 – berapa diameter lensa yang digunakan untuk mengumpulkan cahaya.
50 mm : f/1,4 = 35,7 mm
(pembulatan dari 35,7142857.......)²²
Bila kita sadari bahwa yang bertanggungjawab mengumpulkan cahaya adalah seluruh luas permukaan lensa yang bersangkutan, hitung-hitungan ini menjadi makin menarik lagi. Masih ingat pelajaran SMP bahwa rumus untuk mencari luas lingkaran adalah sama dengan πr² (pi r kuadrat)? Atau 22/7 kali jari-jari kali jari-jari?
Jadi, bila jari-jari diameter lensa 50 mm f/1,4 adalah 17,85 mm (35,7 : 2) maka luas permukaan lensa tersebut adalah:
π x 17,85²
= 3,1415926535897932384626433832795 x 318,6225
= 1000,982105268413896122063591389 mm² (dibulatkan menjadi 1001 mm²)
Bila diafragma kita kecilkan satu stop menjadi f/2, kemampua mengumpulkan cahya dari lensa yang bersangkutan menjadi turun setengahnya. Dengan diafragma f/2 tersebut, secara virtual diameter lensa tadi “diubah” menjadi 25 mm (50 mm : f/2). Jari-jari lensa tersebut menjadi 12,5 mm
Luas permukaan (virtual) lensa yang bersangkutan menjadi:
π x 12,5²
= 3,1415926535897932384626433832795 x 156,25
= 490,87385212340519350978802863742 mm² (dibulatkan menjadi 491 mm²)
Mengapa tidak menjadi setengahnya? Bukankah 491 mm² belum setengah dari 1001 mm² ?
Perlu diingat bahwa dalam fotografi terdapat banyak pembulatan dan kompromi. Angka 491 mm² sudah sangat mendekati setengah dari 1000 mm². Lagi pula perbedaan luas 9 mm² akan sangat sedikit perbedaannya dalam hasil pemotretan.
Tetapi, jika anda masih penasaran juga, kita lihat saja mengapa tidak dibuat benar-benar setengahnya (500 mm²). Bila demikian, hitungannya kita balik menjadi:
500 mm² : π
= 500 : 3,1415926535897932384626433832795
= 159,15494309189533576888376337251
Akar dari 159,15494309189533576888376337251 adalah jari-jari lensa tersebut, yakni 12,615662610100800241235747611828 mm
Dari sini didapat angka 25,231325220201600482471495223657 mm sebagai diameter. f/stop lensa yang bersangkutan adalah:
50 mm : 25,231325220201600482471495223657
= f/1,9816636488030055066725143825606
Pertanyaannya sekarang adalah, muatkah sederetan angka tersebut untuk dituliskan di atas gelang diafragma yang lebarnya imut-imut itu? Lagipula bukankah sudah sangat nyata sekarang bahwa sebenarnya f/1,98 dan seterusnya itu sudah sangat mendekati f/2?
Kita lanjutkan dengan bukaan diafragma berikut, yakni f/2,8 sekalian untuk menunjukkan lebih jauh tentang pembulatan dan kompromi tadi.
Diameter virtual lensa 50 mm pada f/2,8 adalah:
50mm : f/2,8 = 17,85 mm
(dari 17,857142857142857142857142857143)
Jari-jarinya adalah 17,85 : 2 = 8,925 mm
Luas permukaannya :
π x 8,925²
= 3,1415926535897932384626433832795 x 79,655625
= 250,2455263171034740305158978472 mm²
Atau 250 mm². Uhapir setengahnya dari luas permukaan sebelumnya dan seperempat dari luas permyukaan pada diafragma f/1,4.
Dengan rumus tadi, luas permukaan pada f/4 adalah:
122,71846303085129837744700715936 mm² (dibulatkan menjadi 123 mm² sekali lagi hampir setengah dari sebelumnya)
Luas permukaan lensa dari satu diafragma ke diafragma yang lain berkisar kurang lebih setengah (bila dikecilkan) atau dua kali lipat (bila dibesarkan) dari nilai sebelumnya.
Dalam hubungannya dengan kecepatan rana, cukup jelas tampaknya bahwa dengan mengurangi volume cahaya setengahnya (-1 stop) otomatis membutuhkan waktu dua kali lipat lebih lama (+1 stop), dan sebaliknya, dengan menggandakan volume cahaya, waktu yang dibutuhkan juga menjadi lebih cepat dua kali lipat.
Lalu, tahukah anda bahwa terdapat beberapa versi mengenai arti sebenarnya dari f/stop? f/stop (f kecil) dapat berarti salah satu di bawah ini.
singkatan dari fenestra (latin) yang berarti “jendela” (diartikan bahwa bukaan difragma membentuk “jendela” bagi cahya untuk masuk melalui lensa).
Singkatan dari function (fungsi) atau fraction (pecahan)
Simbol dari focal length (panjang fokus) dibagi diameter bukaan (aperture)
Dari seorang fotografer legendaris (ansel adams) yang merasa bentuk huruf ‘f’ untuk bukaan diafragma lebih “indah” dan “nyeni” dari penulisan standar amerika yang sempat populer di awal abad 20 lalu (misalnya, U.S. 1 untuk f/4, U.S.4 untuk f/8, dan seterusnya).
Manapun yang anda percayai, jelasnya kata “stop” melambangkan pergeseran satu bukaan diafragma ke diafragma lain yang memiliki titik henti pada gelang pengatur.
Interpretasi
Jika kita membahas foto sebagai penangkap waktu, kita berurusan dengan tiga jenis foto:
1. Foto dengan waktu mengambang, waktu seolah-olah berhenti, bisa kapan saja, contoh: foto lansekap, still life. atau potret,
2. Foto dengan waktu puncak atau sering disebut decisive moment, instant, tak terulang, ala Cartier-Bresson,
3. Foto dengan waktu acak, sebelum atau sesudah waktu puncak, foto sepintas lalu dari kehidupan sehari-hari yang seolah-olah dibuat dengan seram-pangan, ambigu (bermakna ganda), dan secara komposisi klasik tidak seimbang.
Foto jenis ketiga ini diperkenalkan oleh Robert Frank tahun 1959 sebagai konsep baru dari 'waktu yang tepat' itu. Frank menganggap decisive moment tidak secara jujur menggambarkan realitas dunia, dan itu bukan cara 'melihat' dunia yang normal, menyatakan: "The world moves rapidly and it's not necessary in perfect images". Foto jenis ini dapat dikenali selain dari waktunya yang 'tidak pas', dapat juga dikenali dari komposisinya yang agak serampangan, beberapa obyek bergerak blur, sama sekali tidak fokus, atau foto orang dengan kepala terpotong obyek lain atau terpotong bidang gambar. "It takes a pro to capture another pro" demikian bunyi sebuah iklan kamera terkenal. Memang diperlukan orang yang 'jeli' untuk bisa mengenali foto dengan konsep waktu acak ini dari foto yang memang asal-asalan saja.
Karya foto sangat dipengaruhi oleh paham atau mazhab yang dianut pemotretnya, dan ini bisa menjadi faktor eksternal si seniman. Sebastiao Salgado, penerima anugerah Eugene Smith Grant untuk fotografi humanisme, terkenal akan karya esai fotonya yang bertema kemiskinan dan getirnya kehidupan dalam Workers dan An Uncertain Grace, adalah penganut faham Marxisme. Jadi dalam menginterpretasi foto-foto Salgado akan lebih 'pas' kiranya kalau kita mengerti apa itu Marxisme. Paul Strand (1890-1976) dianggap sebagai salah satu fotografer penting dan berpengaruh dalam abad ini. Kumpulan karyanya yang dibuat sekitar tahun 1916, Paul Strand, Circa 1916, dianggap sebagai prestasinya yang paling dramatis, justru setelah dipamerkan di The Metropolitan Museum of Art, New York, pada bulan Februari 1998. Kajian atau apresiasi formal pada karya-karyanya biasanya membahas pergeseran gaya realis-piktorial menuju gaya abstraksi. Sedangkan kajian sosial budaya biasanya membahas pengaruh pemikiran seorang reformis sosial Lewis Hine pada Strand yang mulai menyerap pemikiran-pemikiran baru seniman avant garde Eropa dalam konteks budaya yang kompleks waktu itu. Penganut fungsionalisme di manapun hampir pasti dipengaruhi oleh mazhab Bauhaus yang dicanangkan oleh Walter Gropius dan Mies van der Rohe di Dessau, Jerman, tahun 1925, yaitu form follows function. Man Ray (bernama asli Immanuel Radinsky) dan Laszlo Moholy-Nagy yang suka 'main-main' dengan fotogram (yang menganggap fotografi tidak harus menggunakan kamera) dengan gaya abstrak adalah beberapa orang yang membawa pengaruh fungsionalisme Jerman ke Amerika dalam fotografi. Contoh lain adalah karya Edmund Teske "Greetings from San Francisco", 1971, yang memproyeksikan selembar kartu pos dengan foto suasana China Town di San Francisco karya John H. Atkinson Jr. di selembar kertas foto. Jadi imaji / citra dalam suatu karya seni/fotografi dapat 'meminjam' hasil karya orang lain, tidak perlu karya sendiri. Jika bicara masalah 'pinjam-meminjam' imaji ini tidak ada yang seheboh karya bapak Pop Art: Andi Warhol dengan "Campbell's Soup Cans' dan wajah Marilyn Monroe-nya, atau seniman Jepang, Yoshimasa Yorimura yang pernah pameran keliling di Indonesia.
Menginterpretasi karya seni adalah menganalisis setiap aspek deskriptif dan mencari hubungan yang bermakna dari setiap aspek tadi. Interpretasi adalah mencari maksud, nada, rasa, dan nuansa dari sebuah karya seni. Interpretasi sangat bergantung dari dua sisi: pengalaman empiris pelihat dan intensi/maksud si seniman yang disampaikan selain lewat unsur visual juga lewat judul yang dicantumkan. Beberapa sudut pandang dalam menginterpretasi antara lain: siapa senimannya, kapan karya dibuat, terbuat dari apa karya tersebut, bagaimana karya dibuat, dan untuk tujuan apa karya dibuat. Fotografi tidak bisa berdiri sendiri, dalam menginterpretasi karya foto kita (perlu) dibantu oleh ilmu-ilmu lain: sejarah dan biografi, filsafat-teologi-religi, sosial-budaya, teori komunikasi, etika, estetika, psikologi persepsi, psikoanalisa, semiotik, hermeneutik, fisionomi, juga ekonomi. Contohnya: interpretasi berdasar Marxisme biasanya akan berpijak pada realitas sosial sebagai manifestasi dari perkembangan dan sejarah sosial di mana si fotografer atau obyek fotonya berada, interpretasi berdasar pengaruh penggayaan (style) dapat membandingkan dengan karya seniman lain yang sejenis atau dalam gaya yang sama, interpretasi berdasar teknik dapat berpijak dari pertanyaan: "Bagaimana karya ini dibuat?", interpretasi berdasar biografi dapat berpijak dari pertanyaan: "Mengapa si fotografer membuat karya sejenis ini (misal ekspresionis, bukan jenis lain)?", atau kita dapat menginterpretasi dengan menggabungkan beberapa pendekatan di atas. Tidak masalah kita menggunakan dasar interpretasi apa, yang penting kita tahu persis memakai dasar apa.
Deskripsi dan interpretasi harus dinyatakan dengan bahasa yang baik dan terstruktur, terutama jika menyangkut rasa dan perasaan. Kita dapat menggunakan dasar pertanyaan: "Apa yang saya rasakan? Mengapa saya merasakan hal ini? Bagian mana dari karya ini yang menggugah perasaan saya: obyeknya, bentuknya, atau medianya?". Umumnya kita menggunakan istilah-istilah atau kata-kata sifat sebagai berikut: masuk akal, menarik, pencerahan, berwawasan, bermakna, membuka pikiran, asli (original), atau sebaliknya: tidak beralasan, tidak masuk akal (absurd), tidak mungkin, tidak dapat dipercaya, tidak pantas, tidak layak, tidak cocok, tragedi, menyedihkan, menegangkan, mengerikan, dan lain-lain.
Ada dua kriteria tentang interpretasi yang baik:
1. Kesesuaian (correspondence) dengan hal-hal yang bisa deskripsi, yang membantu penilaian kita fokus dan terarah pada hal-hal obyektif (apa yang tampak / tampil) pada suatu karya tanpa menjadi terlalu subyektif. Jadi kita harus menganggap setiap karya layak menjadi yang terbaik, karya yang berarti dan bermakna.
2. Masuk akal (coherence), konsisten dan tidak bertentangan dengan hal-hal obyektif pada karya jika pengamat menghubungkan dengan pengalaman pribadinya.
Interpretasi yang 'benar' dapat masuk akal dan obyektif sejauh berdasar kaidah-kaidah tersebut di atas. Suatu interpretasi bahkan belum tentu 'benar' meski datang dari si seniman sendiri, karena mungkin si seniman berkarya tanpa intensi (khusus) tertentu alias iseng-iseng saja, atau tidak perduli akan intensinya, dan menyerahkan apresiasi sepenuhnya pada pengamat. Bisa jadi kita sedang berurusan dengan seniman yang bekerja atas dorongan lubuk hati atau pikiran bawah sadarnya (subconciousness), seperti karya-karya Cindy Sherman, Sandy Skoglund, atau surealis ala Jerry Uelsmann. Tetapi satu hal yang jelas, interpretasi yang baik dari seseorang terbuka terhadap interpretasi lain dari orang lain, jadi (mungkin) di sinilah letak subyektivitasnya. Kita mengandaikan bahwa ada banyak orang lain yang sedang menginterpretasi karya ini juga. Tidak ada satu interpretasi yang 'sungguh benar' karena kita bisa menggunakan dasar interpretasi berbeda. Di sinilah pentingnya peran komunitas fotografi sebagai ajang diskusi, tukar-menukar interpretasi. Seniman akan merasa dihargai karena ada sekelompok orang yang secara konsisten merekonstruksi karya-karyanya, membuatnya lebih matang berkarya.
Kini jelaslah bagi kita: suatu opini atau apresiasi yang tidak berdasar pada ukuran-ukuran yang diuraikan di atas adalah tidak berarti, tidak bermutu, dan tidak berguna. Suatu penilaian atas karya foto yang hanya berdasar rasa suka atau tidak suka, meletakkan penilaian hanya berdasar unsur teknis semata, atau menganggap suatu karya foto (apalagi foto seni) adalah subyektif merupakan penilaian yang dangkal, kerdil, dan tidak bertanggung jawab. Meminjam istilah Oscar Motuloh, diperlukan mata hati dan optis jiwa untuk bisa memahami dan mengapresiasi karya foto, apapapun jenisnya, dengan baik.
Seni ternyata dapat menjadi ekspresif tanpa menjadi representasi semata, tanpa mejadi keindahan 'semu' yang dangkal, atau tanpa 'kemayu'. Perjalanan berkarya beberapa fotografer seni terkemuka rata-rata memang berangkat dari realis-piktorial, tetapi seiring dengan waktu mereka merasa bahwa mencari sesuatu yang abstrak dari yang nyata riil sungguh suatu tantangan, dan pada pencapaian atau tujuan yang pamungkas, the ultimate purpose, mereka memilih ekspresionis. Penekanannya bukan lagi pada obyek/subject matter, bentuk-teknis, media, atau gayanya, tetapi lebih menyatakan keberartian (significant) dalam setiap apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Bukan realis atau abstraksi lagi, tapi fiksi: mengekspresikan sesuatu yang lebih personal dan subyektif (tetapi ingat: tetap harus diapresiasi secara obyektif!).
Kategori Fotografi
Dari masa ke masa orang membuat kategori fotografi berdasarkan obyek (subject matter) atau bentuknya (form), tetapi dalam perkembangannya sebagai salah satu media komunikasi visual, dirasa perlu membuat suatu kategori baru yang dapat mengakomodasi setiap jenis foto yang ada/dibuat. Kategori yang dibuat harus mencakup seluruh jenis fotografi dari mulai foto seni atau non-seni, foto dokumentasi keluarga sampai foto yang dipamerkan di museum atau galeri. Penggolongan suatu foto ke dalam suatu kategori diperlukan suatu interpretasi awal. Kedudukan foto dalam suatu kategori sangat penting dalam rangka membaca atau menginterpretasi foto tersebut lebih lanjut dalam konteksnya.
Kategori baru ini diklasifikasi berdasar pada bagaimana suatu karya foto dibuat dan apa fungsi dari karya foto tersebut (Barret, Terry, 2000, p.54). Menurut Barret kategori fotografi adalah sbb:
Foto deskriptif (descriptive photographs).
Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini adalah foto identitas diri (pasfoto), foto medis atau klinis (foto sinar-x), fotomikrografi (foto hasil pengamatan suatu obyek dari mikroskop), foto eksplorasi kebumian dan angkasa luar, foto pengintaian (kepolisian dan militer / penegak hukum), foto reproduksi benda seni / lukisan, dsb. Foto-foto jenis ini secara akurat menggambarkan benda (subject matter) yang direpresentasikannya. Contoh foto karya Daniel H. Gould (1971) yang menggambarkan partikel virus penyebab kanker di bawah mikroskop dengan perbesaran 52.000 kali (lampiran foto A, foto 5). Foto seperti ini memungkinkan dokter melakukan studi atas mekanisme pembentukan penyakit kanker dan menemukan terapi atau pencegahan yang tepat atas penyakit tersebut.
Foto yang menjelaskan sesuatu (explanatory photographs).
Foto jenis ini memiliki sifat menjelaskan suatu fenomena, kejadian, yang dapat menjadi bukti visual dari suatu teori ilmiah, baik ilmu fisik maupun ilmu sosial (sosiologi visual dan antropologi visual). Foto-foto yang termasuk dalam kategori ini biasanya menunjukkan tempat dan waktu spesifik yang dapat menjadi bukti visual yang dapat dilacak kebenarannya, foto-foto bidang jurnalistik contohnya. Foto-foto editorial yang direproduksi ke dalam majalah, buku, surat kabar, dan media cetak lainnya juga masuk dalam kategori ini.
Untuk dapat masuk dalam kategori ini suatu foto harus menunjukkan penjelasan visual yang dapat diverifikasi dalam disiplin ilmu tertentu oleh seorang pakar dalam ilmu tersebut. Foto karya Harold Edgerton yang menggambarkan foto dirinya memegang balon yang meletus ditembus peluru menunjukkan sifat lintasan proyektil peluru ketika ditembakkan. Dengan foto seperti ini dapat diverifikasi (oleh ahli fisika) bahwa proyektil peluru memiliki kecepatan 15.000 mil/jam dan ketika menumbuk suatu benda keras proyektil peluru dapat pecah menjadi fragmen-fragmen. Foto karya fotografer selebritis Annie Leibovitz yang menggambarkan (montase) proses berkarya seniman Keith Haring (1986) dapat masuk dalam kategori ini. Pada tahun 1973 Bill Owens menerbitkan buku kumpulan fotonya Suburbia, yang mendokumentasikan kehidupan orang Amerika yang tinggal di pinggiran kota California. Foto-foto sosiologi-budaya-antropologi ala Mary Ellen Mark dan Nan Goldin juga termasuk dalam kategori ini.
Foto interpretasi (interpretive photographs).
Tidak seperti foto ilmiah yang sangat obyektif, foto interpretasi lebih bersifat simbolik, puitik, fiksi, dramatik dan diinterpretasi secara subyektif-personal. Foto-foto dengan gaya surealis, foto montase dan kolase, foto dengan pencahayaan ganda (multiple exposures) ala Jerry Uelsmann masuk dalam kategori ini. Foto-foto mixed-media (fotografi dengan lukis / ilustrasi) dan apa yang kita kenal dengan foto kotemporer umumnya juga masuk dalam kategori ini (karya Rimma Gerlovina). Foto interpretasi pada umumnya 'dibuat' (making photographs) bersifat hasil kreasi (expansive moments) dan bukan 'diambil' (taking photographs) seperti halnya foto candid atau menemukan momen seperti foto dokumenter-jurnalistik (decisive moments).
Foto etik (ethically evaluative photographs).
Kategori ini memuat foto-foto yang memuat aspek-aspek sosial kemasya-rakatan yang harus dinilai secara etik. Foto-foto tentang perang dan akibatnya (masalah pengungsi, imigran, dll.), penyakit menular yang mematikan (AIDS, SARS, dll.), wabah dan kelaparan, kehidupan kelas bawah (pengemis, anak jalanan, dll.), ketergantungan narkoba, isu-isu etnik-agama-ras seperti karya Carrie Mae Weems, serta perusakan lingkungan, masuk dalam kategori ini. Iklan politik dan propaganda pemerintah serta iklan komersial (baik produk maupun jasa) juga masuk dalam kategori ini. Foto-foto etik ini umumnya juga membawa misi meningkatkan hubungan kemasyarakatan yang dibangun dari kesadaran dan kepedulian akan perbedaan (kelas) sosial. Selain menggambarkan kepincangan sosial, foto-foto etik ini bisa saja menggambarkan sesuatu yang positif, misalnya potret tokoh wanita yang inspirasional (seperti Indira Gandhi, Margaret Tatcher, dll). Kategori ini juga mengakomodasi foto-foto yang menggambarkan kehidupan masyarakat dalam suatu sistem ekonomi-politik tertentu (kapitalis-liberal, sosialis-marxis, dll.).
Foto estetik (aesthetically evaluative photographs).
Kategori ini mencakup karya foto yang biasa kita sebut 'foto seni', foto-foto yang memerlukan tinjauan dan kontemplasi estetik. Foto-foto ini adalah tentang benda sebagai obyek estetik yang difoto dengan cara estetik. Umumnya foto-foto nude tentang studi bentuk tubuh manusia, foto-foto lansekap (alam, kota, atau gabungan bangunan dengan alam) ala Ansel Adams, foto still life, foto jalanan (street photography) ala Henri Cartier-Bresson, foto mosaik, foto eksperimental kamar gelap (alternative processes), masuk dalam kategori ini. Dibandingkan dengan kategori lainnya, foto estetik lebih mengeksplorasi bentuk (form) dan media (medium) daripada obyeknya (subject matter) sendiri (karya Jock Struges dan karya John Coplans). Obyek foto boleh jadi tidak indah seperti contoh foto Richard Misrach yang menggambarkan sapi-sapi yang mati di pinggir jalan bersalju.
Foto teori (theoretical photographs).
Kategori ini mencakup foto tentang fotografi, foto tentang seni dan pembuatan karya seni, politik seni, foto tentang film, model representasi, dan teori-teori tentang fotografi. Foto teori ini dapat berupa kritik seni atau kritik fotografi secara visual yang menggunakan media foto sebagai pengganti kata-kata. Foto jenis ini biasanya menjadi semacam reproduksi dari suatu karya seni. Apa yang kita kenal sebagai seni konseptual serta fotografi konseptual masuk dalam kategori ini seperti karya Zeke Berman dan Sarah Charlesworth.
Memang tidak mudah memasukkan suatu foto ke dalam kategori-kategori tersebut di atas. Suatu foto bisa saja berada dalam interseksi dua kategori. Dalam menginterpretasi awal diperlukan pemahaman tentang apa isi dan maksud dari suatu foto sebagai argumen dasar pengkategorian. Bagaimanapun juga hal ini membuka argumen balik dan memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut tentang interpretasi yang lebih kontekstual.

